Haji dan Umrah – Pengertian dan Tata Cara Pelaksanaannya

ulasan rukun hajiSyarat sah atau tidaknya suatu ibadah yang dilaksanaan oleh seorang muslim ditentukan oleh tata cara dan ketentuan yang telah diatur dalam hukum islam [fiqih]. Begitu juga dengan ibadah haji dan umrah, dimana terdapat ketentuan dan tata cara pelaksanaannya yang akan dapat menentukan sah atau tidaknya ibadah haji dan umrah yang dilakukan oleh seseorang, diantaranya adalah syarat wajib haji, rukun haji dan wajib haji.

Kali ini kita hanya akan membahas khusus tentang rukun haji yang merupakan serangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Sedangkan untuk rukun ibadah umrah hanya dibedakan tanpa proses wukuf karena umrah adalah ibadah haji yang dilakukan bukan pada musim haji.

Rangkaian kegiatan yang termasuk dalam rukun haji ini sangat penting dan sangat menentukan sahnya ibadah haji yang sedang dilaksanakan. Sebab apabila salah satu dari kegiatan ini luput dilakukan oleh jamaah yang sedang melaksanakan ibadah haji maka ibadah hajinya menjadi tidak sah.

Pengertian Rukun Haji

Rukun haji adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh jamaah haji selama pelaksanaan ibadah hajinya. Jika salah satu saja dari rangkaian kegiatan ini tidak dilaksanakan maka ibadah hajinya menjadi tidak sah. Rangkaian kegiatan ini merupakan kegiatan inti daripada ibadah haji itu sendiri. Tanpa pelaksanaan rangkaian kegiatan yang termasuk dalam rukun haji ini maka ibadah haji akan kehilangan esensinya.

Lalu apa saja kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam rukun haji ini? Rangkaian kegiatan yang termasuk dalam rukun haji ada enam. Mari kita bahas satu persatu secara lebih detail sebagai berikut:

1. Ihram

Rukun haji yang pertama yang harus dilakukan adalah ihram. Secara harfiah bermakna “melarang” atau “mencegah”, sebab kegiatan ihram ini melarang seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji melakukan segala perbuatan yang telah diatur dan ditetapkan dalam ilmu fiqih, seperti berburu, memakai minyak wangi, mengucapkan kata-kata kotor dan keji, bersenggama dan lain sebagainya yang dilarang selama ihram.

Sedangkan menurut hukum fiqih, ihram adalah pernyataan memulai melaksanakan ibadah haji dengan mengenakan pakaian ihram dan disertai dengan niat haji di miqot [batasan tempat/waktu yang telah ditetapkan]. Untuk lebih lengkapnya, anda bisa membaca tentang ihram ini pada artikel berikut: Ihram – Makna dan Nilai Kesetaraan Manusia Disisi Allah swt.

Hal-hal yang dilarang dilakukan ketika ihrom :

  • Bersenang-senang dan berhubungan suami istri (Jima’)
  • Bercumbu disertai syahwat
  • Memakai pakaian berjahit (bagi laki-laki)
  • Menutup kepala dengan kain ihrom, sorban, peci, dsb (bagi laki-laki)
  • Menutup wajah (bagi perempuan)
  • Memakai minyak wangi (termasuk minyak rambut)
  • Mencukur rambut dan memotong kuku
  • Melaksanakan akad nikah
  • Membunuh dan berburu binatang

2. Wukuf di Arofah

Wukuf adalah rangkaian kegiatan rukun haji yang kedua yang harus dilakukan oleh jamaah haji setelah melakukan ihram. Secara harfiah wukuf berarti “berdiam diri atau berhenti”. Merupakan rangkaian kegiatan rukun haji yang harus dilakukan oleh jamaah haji agar ibadah hajinya dianggap sah dengan cara berdiam diri di padang Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah sejak terbitnya matahari sampai dengan terbenamnya.

Berikut uraian petunjuk singkat pelaksanaan wukuf di Arofah:

  • Setelah sholat shubuh berangkat menuju Arofah
  • Sampai di Arofah carilah tenda yang telah disediakan maktab/penanggung jawab
  • Wuquf di Arofah adalah inti daripada haji, pastikan kita sudah masuk batas Arofah mulai dari tergelincirnya matahari pada siang hari
  • Setelah tergelincirnya matahari, disunnahkan untuk khutbah Arofah, kemudian menjama’ qashar sholat zuhur dan ashar pada waktu zuhur dengan satu azan dan dua iqomah
  • Kemudian perbanyaklah berdoa dan berzikir, bacaan doa dan zikirnya bebas
  • Wuquf di Arofah waktunya mulai dari tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Wuquf yang paling afdhal adalah menggabung antara siang dan malam

Harus diingat bahwa wukuf di padang Arafah adalah termasuk rukun haji yang paling utama sehingga harus dilakukan dalam kondisi apapun dan tidak bisa diwakilkan agar hajinya sah. Hal ini berdasarkan hadits Rasululloh yang berbunyi:

“Haji adalah Arafah, barangsiapa yang datang pada malam harinya sebelum terbit fajar (hari kesepuluh), maka dia telah mendapatkan wukuf”.
(HR. At-Tirmidzi)

Anda dapat mempelajari tentang wukuf ini secara lebih detail pada artikel saya yang lain sebagai berikut: Makna dan Hikmah Wukuf di padang Arofah.

3. Tawaf Ifadhah

Tawaf ifadhah atau tawaf wajib adalah rukun haji yang ketiga yang harus dilakukan oleh jamaah haji agar ibadah hajinya sah. Secara harfiah tawaf berarti “berkeliling”. Menurut istilah dalam ilmu fiqih tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali putaran dengan tata cara yang telah diatur dalam ilmu fiqih. Waktu pelaksanaanya adalah pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah melontar jumrah aqobah. Untuk memahami lebih detail mengenai tawaf anda bisa membacanya pada ulasan saya disini: Tawaf – Makna dan Hikmah Yang Terkandung didalamnya.

Syarat-syarat sah Tawaf :

  • Suci dari hadas besar dan kecil serta najis
  • Menutup aurat seperti pada sholat
  • Dilaksanakan di dalam Masjidil Harom, jika penuh, boleh di lantai atas.
  • Melengkapi 7 putaran
  • Putaran dimulai dan diakhiri pada Hajar Aswad (ditandai lampu hijau).
  • Posisi Ka’bah berada disebelah kiri (berlawanan putaran jarum jam).
  • Niat tawaf ( khusus tawaf wada’ saja). Adapun niat thawaf untuk umroh dan haji tidak wajib, karena sudah tercakup pada niat umroh dan hajinya, namun diutamakan berniat juga.

Hal-hal yang disunnahkan pada waktu tawaf :

  • Meletakkan kain ihrom dibawah pundak kanan dan meletakkan sudut lainnya diatas pundak kiri (pundak kanan terbuka)
  • Mengusap dan mencium Hajar Aswad, apabila tidak mampu cukup memberi isyarat dengan mengangkat tangan dan menciumnya pada setiap putaran
  • Memperbanyak doa dan pujian. Bacaan doanya bebas, dapat juga membaca tasbih tahmid dan tahlil. Apabila sampai rukun yamani lebih afdhal membaca doa sapu jagad
  • Berjalan cepat pada 3 putaran pertama dan berjalan seperti biasa pada ke 4 putaran selanjutnya
  • Mengusap rukun yamani (sudut Ka’bah yang mengarah ke negeri Yaman) dan mencium tangan
  • Berputar mendekati Ka’bah (bagi laki-laki)
  • Kontinyu pada setiap putaran
  • Sholat Sunnah dua roka’at setelah tawaf

Tawaf bagi wanita haid. Jika haidnya sesudah tawaf ifadhah, maka tidak perlu tawaf wada’ apabila masih haid, namun jika haidnya sebelum tawaf ifadhah, maka wanita tersebut harus tetap berada di Mekkah menunggu masa sucinya kemudian lakukan tawaf.

4. Sai

Rukun haji yang keempat adalah sai. Secara harfiah berarti “bekerja, berjalan, berlari”. Sedangkan menurut istilah dalam ilmu fiqih/hukum islam, sai bermakna: Berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah.

Sebagai salah satu dari rukun sahnya ibadah haji, sai dilakukan setelah melaksanakan tawaf, baik tawaf umrah maupun tawaf ifadhoh. Tidaklah sah haji seseorang apabila tidak melakukan sai ini. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dan hadits Rasululloh SAW berikut ini :“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah” (Qs al-Baqarah ayat: 158)

Diriwayatkan dari Imam Addaruquthni dan yang lainnya dalam kitab Majmu’ dengan sanad hasan, bahwasannya Rasululloh pernah melakukan sai sambil menghadap kiblat lalu belia bersabda: “Lakukanlah sai karena sesungguhnya sai ini telah diwajibkan kepada kalian.”

Ulasan lebih detail mengenai sai ini dapat anda baca pada artikel terkait berikut ini: Sai – Keseimbangan Antara Tawakkal dan Ikhtiar.

Syarat-syarat sahnya Sai :

  • Dilaksanakan pasca thawaf dan di tempat sai
  • Dimulai pada Shofa dan berakhir di Marwah
  • Melewati sepanjang lintasan Shofa ke Marwah
  • Melengkapi tujuh putaran; dari Shofa ke Marwah terhitung satu putaran, dan dari Marwah kembali ke Shofa terhitung putaran kedua dan selanjutnya hingga tujuh.

Hal-hal yang disunnahkan pada waktu melakukan Sai :

  • Suci dari hadas besar, kecil dan najis
  • Menyegerakan sai setelah thawaf
  • Kontinyu pada setiap putaran
  • Mempercepat lari diantara dua tanda hijau (lampu)
  • Naik ke bukit Sofa dan Marwah pada setiap putaran
  • Membaca doa dan zikir tertentu, kemudian berdoa bebas, dapat juga membaca zikir atau kalimat thayyibah
  • Berjalan kaki bagi yang mampu

5. Tahallul

Tahallul artinya “penghalalan”. Dalam kaitannya dengan ibadah haji tahallul maksudnya adalah ritual yang dilakukan untuk melepaskan jamaah haji dari larangan/pantangan ihram dengan cara bercukur dan menggunting rambut. Prosesi rukun haji ini dilakukan setelah selesai pelaksanaan ritual sai.

Tahallul ini ada dua macam, yang pertama adalah tahallul awwal/tahallul pertama yaitu apabila orang yang melaksanakan ibadah haji itu telah melakukan dua dari tiga kewajiban haji yaitu: melontar jumrah dan mencukur/memotong rambut, atau melontar jumrah dan thawaf, atau thawaf dan mencukur/memotong rambut. Yang kedua adalah tahallul tsani/tahallul kedua adalah apabila orang yang melaksanakan ibadah haji telah melakukan tiga kewajiban dalam haji, yaitu melontar jumrah, thawaf dan mencukur/memotong rambut.

Apabila seseorang telah melakukan dua hal saja sebagaimana yang telah disebutkan dalam kategori tahallul awwal diatas, maka dia boleh memakai baju berjahit, memakai parfum, dan halal baginya semua hal yang haram atas orang yang sedang ihram kecuali senggama.

Apabila ia telah melakukan yang ketiga sebagaimana yang termasuk dalam kategori tahallul tsani maka halal baginya melakukan semua yang dilarang atas orang yang sedang ihram termasuk senggama. Sebagian ulama berpendapat bahwa jika orang yang haji telah melontar jumrah pada hari ‘Id, maka dia boleh tahallul pertama. Ini adalah pendapat yang bagus. Jika seseorang melakukan hal ini, maka insya Allah tiada dosa atas dia.

Namun yang lebih utama dan lebih hati-hati adalah agar seseorang tidak tergesa-gesa tahallul pertama hingga dia melakukan amal haji yang kedua, yaitu mencukur/ memotong rambut atau ditambahkan dengan thawaf berdasarkan hadits dari Aisyah, meskipun dalam sanadnya terdapat komentar ulama, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya sebagai berikut: “Jika kamu telah melontar jumrah dan telah bercukur maka telah halal bagimu parfum dan segala sesuatu kecuali senggama” [Hadits Riwayat Abu Dawud]

Juga karena berpedoman hadits-hadits lain yang berkaitan tentang masalah ini. Dan karena Nabi SAW ketika telah melontar jumrah pada hari ‘Id, menyembelih kurban dan bercukur, maka Aisyah memberikan parfum kepada beliau. Yang utama dan lebih hati-hati adalah agar seseorang tidak tahallul awal kecuali setelah melontar dan mencukur/ memotong rambut, dan jika dapat melakukan hendaknya memotong kurban setelah melontar jumrah dan sebelum bercukur.

6. Tertib

Tertib adalah melaksanakan rangkaian kegiatan yang termasuk dalam rukun haji ini secara berurutan dan tidak ada yang tertinggal. Artinya disini adalah kegiatan-kegiatan rukun haji diatas dilakukan sesuai dengan urutannya. Seperti contoh misalnya tidak boleh wukuf di Arofah dilakukan sebelum ihram sebab ibadahnya menjadi tidak sah.

Demikianlah sekilas pembahasan tentang rukun haji dan umrah ini dengan harapan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pemahaman kepada anda tentang hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan pelaksanaan ibadah haji. Semoga dengan pembahasan singkat ini dapat membantu anda mempersiapkan dengan lebih baik rencana pelaksanaan ibadah haji dan umrah anda dan memastikan bahwa ibadah haji dan umrah yang dilakukan benar dan sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam hukum fiqih islam sehingga ibadah haji dan umrah andapun sah dan lebih sempurna.