Ihram – Makna dan Nilai Kesetaraan Manusia disisi Allah SWT

cara memakai ihramSalah satu rukun wajib dalam ibadah haji maupun umroh adalah ihram. Secara etimologi ihram berasal dari kata “ahroma” yang berarti: MELARANG atau MENCEGAH. Sementara menurut istilah dalam ilmu fiqih, ihram bermakna: Niat untuk mengerjakan haji atau umroh bagi kaum muslimin yang hendak menunaikan ibadah haji maupun umroh ke tanah suci Mekah. Dengan niat ini maka terlaranglah segala perbuatan yang dilarang sampai selesainya ritual haji yang tersusun dalam rukun dan wajibnya.

Selama ini telah terjadi kesalahan-pemahaman sebagian kaum muslimin bahwa ihram adalah berpakaian dengan kain ihram, padahal ihram adalah niat masuk ke dalam haji atau umrah, sedangkan berpakaian dengan kain ihram hanya merupakan satu keharusan bagi seorang yang telah berihram. Ihram bagi pria adalah pakaian yang bersifat unik dan spesifik karena tidak boleh dijahit. Cara memakainya dililitkan ke sekeliling tubuh. Mengenkan pakaian ihram merupakan pertanda ibadah haji mulai dilakukan.

Tata Cara ihram

Berikut uraian singkat mengenai tata cara ihram berdasarkan hadits-hadits dari Rasululloh yang telah memberikan contoh kepada kita untuk diikuti:

1. Disunnahkan untuk mandi sebelum ihram bagi laki-laki dan perempuan, baik dalam keadaan suci atau haidh.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallohu ‘anhu.

“Lalu kami keluar bersama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tatkala sampai di Dzul Hulaifah, Asma binti ‘Umais melahirkan Muhammad bin Abi Bakr, lalu ia (Asma) mengutus (seseorang untuk bertemu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dan berkata): ‘Apa yang harus aku kerjakan? Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Mandilah dan beristitsfarlah kemudian ihram.”
[Riwayat Muslim (2941) 8/404, Abu Daud no.1905, 1909 dan Ibnu Majah no.3074]

2. Disunnahkan memakai minyak wangi ketika ihram, sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah RA:

“Aku memakaikan wangi-wangian kepada nabi untuk ihramnya sebelum berihram dan ketika halalnya sebelum thawaf di Ka’bah”
[HR. Bukhary no.1539 dan Muslim no. 1189].

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau ingin berihram memakai wangi- wangian yang paling wangi yang beliau dapatkan kemudian aku melihat kilatan minyak di kepalanya dan jenggotnya setelah itu”.
[HR.Muslim no.2830 ].

3. Mengenakan dua helai kain putih yang dijadikan sebagai sarung dan selendang bagi laki-laki. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“Hendaklah salah seorang dari kalian berihram dengan menggunakan sarung dan selendang serta sepasang sandal.” [HR. Ahmad 2/34 dan dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir]

Diutamakan yang berwarna putih berdasarkan sabda Rasulullah SAW..

“Sebaik-baik pakaian kalian adalah yang putih, maka kenakanlah dan kafanilah mayat kalian dengannya” [HR. Ahmad, lihat Syarah Ahmad Syakir 4/2219, dia berkata: isnadnya shahih]

Sedangkan bagi wanita tetap memakai pakaian wanita yang menutup semua auratnya, kecuali wajah dan telapak tangan.

4. Disunahkan berihram setelah shalat, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar dalam shahih Bukhori bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Tadi malam utusan dari Rabbku telah datang lalu berkata: “Shalatlah di Wadi (lembah) yang diberkahi ini dan katakan: “Umrotan fi hajjatin.”

Dan hadits Jabir :

“Lalu Rasulullah SAW shalat di masjid (Dzulhulaifah) kemudian menunggangi Al-Qaswa’ (nama onta beliau) sampai ketika ontanya berdiri di al-Baida’ , beliau berihram untuk haji”. [HR.Muslim].

5. Berniat untuk melaksanakan salah satu dari tiga manasik, dan niat tersebut disunnahkan untuk diucapkan. Yaitu dengan memilih salah satu dari bentuk ibadah haji: ifrad, qiran dan tamatu’ sebagaimana yang dikatakan Aisyah RA:

“Kami keluar bersama Rasulullah SAW pada tahun haji wada’ maka ada diantara kami yang berihram dengan umrah dan ada yang berihram dengan haji dan umrah dan ada yang berihram dengan haji saja, sedangkan Rasulullah SAW berihram dengan haji saja, adapun yang berihram dengan umrah maka dia halal setelah datangnya dan yang berihram dengan haji atau yang menyempurnakan haji dan umrah tidak halal (lepas dari ihramnya) sampai dia berada dihari nahar.”
[Mutafaq alaih]

 

“Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaik Innal hamda wani’mata laka wal mulk laa syariikaa lak dan yang sejenisnya.”

Berdasarkan hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:

“Bahwa talbiah Rasulullah saw. adalah Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik innal hamda wan ni‘mata laka wal mulku laa syarika lak (Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, segala nikmat dan semua kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).”
[Shahih Muslim No.2029]

Nilai Kesetaraan Manusia dihadapan Allah SWT

pakaian ihramSebagaimana yang telah diketahui bersama dalam tata cara pelaksanaan ihram bahwa siapapun anda, tidak perduli apa status sosial anda, mulai dari presiden maupun rakyat biasa, bangsawan maupun rakyat jelata, kaya maupun miskin, pintar maupun bodoh, majikan ataupun buruh, semua wajib menggunakan pakaian yang sama, warna yang sama dan cara memakainya pun sama, tidak ada pernak-pernik apapun, putih dan polos.

Dengan niat yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT, para jemaah menanggalkan segala baju dan atribut kebesaran untuk kemudian memakai baju yang sama yaitu baju ihram. Ribuan bahkan jutaan manusia dengan pakaian yang sama berlomba-lomba menuju Ka’bah untuk meraih ridha Allah SWT.

Tidak ada lagi segala macam bentuk status sosial yang membelenggu ego dan hati mereka. Mereka datang sama-sama sebagai hamba Allah SWT dengan tujuan yang sama untuk menjawab seruan Allah SWT dengan penuh ikhlas dan niat yang suci. Sesungguhnya islam telah mengajarkan nilai kesetaraan kepada manusia dihadapan Allah SWT dihadapan Tuhan melalui ihram ini.

Pakaian ihram ingin memberi pemahaman kepada para jemaah bahwa mereka harus menyingkirkan egoisme, kesombongan, dan ketamakan dari dalam dirinya. Ihram mengandung makna melepaskan dan membebaskan diri dari simbol-simbol material dan atribut-atribut sosial.

Dengan berpakaian ihram, para jemaah mampu menyaksikan manusia sebagai manusia dan melepas embel-embel yang sering menjadi simbol kepalsuan dan kebohongan. Ihram juga bermakna mengosongkan diri dari mentalitas duniawi dan membersihkan diri dari nafsu serakah, kesombongan serta kesewenang-wenangan.

Pakaian ihram menyimbolkan kesetaraan di hadapan Allah SWT dan manusia tidak dipandang dari pangkat dan jabatannya, melainkan kadar takwa mereka. Manusia dituntut untuk senantiasa bersikap wajar dan tidak berlebihan dalam hidup ini.

Imam Ali as-Sajjad as berkata, “Ketika engkau membersihkan diri di Miqat, maka maksudnya adalah bahwa engkau menyucikan diri dari kemunafikan dan riya, bukan hanya membersihkan dan menyucikan badan, sebab itu merupakan tanda dan simbol kesucian hati. Di saat engkau melakukan ihram, maka maknanya adalah bahwa apapun yang Allah haramkan bagimu, maka engkau harus mengharamkannya kepada dirimu sendiri dan engkau (juga harus) berjanji untuk tidak pernah melanggar batasan haram (tersebut).”

Mungkin diantara kita masih ada yang menyangka bahwa yang paling mulia adalah yang kaya harta, dari golongan konglomerat, yang cantik rupawan, yang punya jabatan tinggi, berasal dari keturunan Arab atau bangsawan. Namun, Allah sendiri menegaskan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Allah SWT berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Al Hujurat: 13]

Hadts-hadits Rasululloh SAW yang berkenaan dengan ini:

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah orang yang paling mulia?” “Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka”, jawab Rasul SAW. Orang tersebut berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya”, jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Apa dari keturunan Arab?”, tanya beliau. Mereka menjawab, “Iya betul”. Beliau bersabada, “Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama).” [HR. Bukhari no. 4689]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” [HR. Muslim no. 2564]

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad, 5: 158. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari sanad lain)

Bukan kulit putih membuat kita mulia, bukan pula karena kita keturunan darah biru, keturunan Arab, atau anak konglomerat, presiden, anak pejabat dan sebagainya. Yang membuat kita mulia adalah karena takwa. Oleh sebab itu islam telah mengajarkannya kepada kita melalui ihram ini.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan nilai sosial dari ihram ini sehingga kita tidak lagi terjebak pada egoisme yang dibatasi oleh status sosial yang penuh dengan kepalsuan sehingga kita tidak lagi merendahkan manusia yang lainnya, karena kita manusia adalah sama, hamba-hamba Allah SWT.

Tagged , , ,