Keutamaan Hari Jumat dan Adab-adab dalam Meraih Fadhilahnya [Bagian 1]

keutamaan hari jumat dan fadhilahnyaKetahuilah bahwa hari jum’at adalah hari rayanya bagi orang-orang yang beriman, ia merupakan hari yang mulia yang dikhususkan hanya untuk ummat nabi Muhammad SAW.

Ia lebih baik nilainya disisi Allah SWT dibanding hari-hari yang lain dalam seminggu. Sehingga sholat jum’at lebih utama nilanya dari sholat-sholat lainnya.

Bahkan dikatakan bahwa hari Jum’at ini nilainya lebih utama dibandingkan dengan hari raya idul fitri maupun hari raya idul adha disebabkan oleh berbagai fadhilah yang terkandung didalamnya.

Salah satu alasan yang membuat hari jum’at ini lebih utama dibandingkan dengan hari-hari yang lainnya adalah karena terdapat satu waktu yang mustajab yang tersembunyi pada hari ini.

Dikatakan dalam suatu riwayat bahwa apabila ada seorang hamba yang jika bertepatan memohon sesuatu apapun, baik itu permohonan yang berkaitan dengan urusan dunia maupun yang berkaitan dengan urusan akhirat pada waktu mustajab ini, maka Allah SWT pasti akan mengabulkan permohonannya tersebut.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Allah SWT membebaskan sebanyak 600 ribu penghuni neraka pada setiap hari Jum’at.

Rasululloh SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang meninggal pada hari Jum’at atau pada malam Jum’at maka dicatat baginya pahala mati syahid dan dibebaskan ia dari siksa kubur”.

Pendapat Beberapa Ulama Mengenai Waktu Mustajab pada Hari Jum’at

Sebagian mereka mengatakan bahwa waktu mustajab ini berada pada akhir waktu siangnya, pendapat mereka ini didasarkan oleh sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan nabi Adam as setelah waktu ashar pada hari Jum’at dan kuatnya kadar sumpah yang dilakukan setelah waktu ashar pada hari Jum’at.

Sementara Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan bahwa waktu mustajab ini sangat singkat, berada pada waktu mulai duduknya imam/khotib dari khutbah pertama sampai salam ketika selesai sholat Jum’at.

Oleh sebab itu sangatlah rugi apabila kita sebagai orang yang beriman dan mengaku ummat nabi Muhammad SAW enggan mengambil peluang dalam meraih berbagai fahilah yang telah ditawarkan dan disediakan oleh Allah SWT pada hari Jum’at ini.

Sebab sebagaimana disampaikan diatas bahwa hari Jum’at ini, dengan segala kemuliaan dan karunia yang terkandung didalamnya hanya dikhususkan oleh Allah SWT untuk kita, ummat nabi Muhammad SAW. Lalu mengapa kita enggan menyambut peluang yang besar dan mulia ini?

Oleh sebab itu, berikut ini akan dipaparkan adab-adab yang harus diperhatikan dalam menyambut hari yang mulia ini agar kita dapat meraih segala karunia yang ditawarkan oleh Allah SWT pada hari ini secara maksimal dan sempurna.

Adab-adab Menyambut Hari Jum’at yang Mulia

Imam Alghozali r.a. memaparkan dengan gamblang dan jelas kepada kita 7 macam adab atau tata-cara yang benar dalam menyambut datangnya hari Jum’at dan memaksimalkan amalan-amalan yang dapat memberikan kita peluang yang lebih besar untuk dapat meraih fadhilah atau karunia yang terkandung didalamnya antara lain sebagai berikut:

Adab Yang Pertama – Persiapan dalam Menyambutnya Sejak Hari Kamis.

Hendaklah persiapkan diri menyambut datangnya hari yang mulia ini sejak hari Kamis, karena waktu kemuliaan dan tersedianya berbagai karunia hari Jum’at sudah dimulai sejak sore hari Kamis. Persiapan yang dilakukan adalah dengan cara sebagai berikut:

  • Mencuci pakaian yang akan dipergunakan khusus pada hari Jum’at nanti.
  • Memperbanyak ucapan tasbih untuk mengakui kesucian Allah SWT.
  • Memperbanyak istighfar atau memohon ampunan kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
  • Serta memperbanyak do’a terutama pada waktu sore hari Kamis(Setelah Ashar).

“Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa sesungguhnya Allah SWT memiliki karunia khusus selain karunia rezki untuk para hamba-Nya. Karunia khusus ini tidak akan diberikan-Nya kepada siapapun kecuali khusus disiapkan untuk hamba-Nya yang meminta atau berdo’a kepada-Nya pada sore hari kamis dan pada hari Jum’at saja”.

Berniatlah untuk melakukan puasa pada hari Jum’at. Namun tidak boleh dikhususkan puasa hari Jum’at saja, harus dilanjutkan berpuasa pada hari Sabtunya atau berpuasa juga pada hari Kamisnya, sebab Rasululloh SAW melarang keras kita berpuasa khusus pada hari Jum’at saja.

Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim, Rasululloh SAW bersabda: “Janganlah salah seorang diantara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali ia berpuasa juga pada hari sebelumnya(Kamis) atau berpuasa juga pada hari sesudahnya(Sabtu)”.

Rasululloh SAW juga pernah bersabda dalam sebuah hadits: “Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang memang telah diwajibkan atas kalian(Puasa Romadhon)”. Sebab dikatakan bahwa orang Yahudi berpuasa pada hari Sabtu dan Rasululloh SAW tidak ingin kita terjerumus dalam perbuatan yang menyerupai mereka.

Adab Yang Kedua – Membersihkan Tubuh Menyambut Jum’at dengan Cara Mandi.

Ketika fajar mulai terbit pada waktu subuh hari Jum’at, hendaklah kita mandi dengan niat khusus mandi hari Jum’at agar peluang karunia itu mulai kita dapatkan dengan diawali membersihkan diri secara jasmani. Sebab dikatakan bahwa mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi orang yang sudah baligh, dan ada juga yang mengatakan hukumnya sunnah mu’akkad.

Adab Yang Ketiga – Mengenakan Pakaian Yang Terbaik, Memakai Wewangian Yang Terbaik, dan Menyempurnakan Kebersihan Diri dengan Mencukur Rambut, Mencukur Kumis, dan Memotong Kuku, Bersiwak/Menggosok Gigi dan Hal-hal yang berkaitan dengan Masalah Kebersihan Badan

Sempurnakan persiapan kebersihan diri kita dalam menyambut datangnya hari Jum’at yang mulia ini dengan mengenakan pakaian yang terbaik, yaitu pakaian yang berwarna putih, tentunya yang sudah dicuci bersih dan suci yang telah dipersiapkan sejak hari Kamis sebelumnya. Allah SWT paling suka dengan pakaian yang berwarna putih.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi, Rasululloh SAW bersabda: “Kenakanlah pakaian kalian yang berwarna putih, karena pakaian yang berwarna putih itu adalah sebaik-baik pakaian untuk kalian, dan kafankanlah orang-orang yang meninggal diantara kalian dengan pakaian yang berwarna putih”.

Kemudian pakailah parfum/wewangian yang terbaik yang kalian miliki. Namun ingatlah bahwa parfum yang terbaik bagi laki-laki adalah yang tidak terlalu mencolok warnanya namun sangat keras wangi aromanya. Dan parfum terbaik bagi wanita adalah perfum/wewangian yang mencolok warnanya namun lembut/tidak keras wangi aromanya.

Kemudian cukurlah rambut agar lebih rapih, lalu cukurlah kumis kalian, kemudian sempurnakan dengan memotong kuku kaki dan tangan. Ini merupakan kegiatan membersihkan tubuh yang sempurna.

Cara yang paling afdhol sesuai dengan sunnah Rasululloh SAW dalam memotong kuku kaki dan tangan adalah sebagai berikut:

  • Dimulai dari Memotong kuku tangan kanan: Potonglah mulai dari kuku jari telunjuk terus berurutan sampai jari kelingking, kemudian ditutup dengan memotong kuku ibu jari.
  • Kemudian Memotong kuku tangan kiri: Potonglah mulai dari kuku ibu jari dilanjutkan berurutan sampai kuku jari kelingking.
  • Lalu memotong kuku kaki: Dimulai dari kuku jari kelingking kaki kanan terus berurutan diakhiri sampai dengan kuku jari kelingking kaki kiri.

Lanjutakan dengan bersiwak/menggosok gigi untuk menghindari aroma atau bau yang tidak sedap dari mulut, yang dapat mengganggu orang lain, kecuali bagi orang yang sedang berpuasa karena makruh hukumnya.

Imam Syafi’i r.a. pernah berkata…

“Barangsiapa yang membersihkan pakaiannya niscaya semakin sedikitlah angan-angannya, dan barangsiapa yang wangi aroma atau baunya maka semakin bertambahlah akalnya atau kefahamannya”.

Demikian uraian keutamaan hari jumat dan adab-adab yang seharusnya dilakukan dalam menyambut hari yang mulia bagian pertama ini, nanti akan saya lanjutkan pada bagian kedua agar kita semua bisa semaksimal mungkin dapat meraih fadhilah atau karunia yang tersedia dan ditawarkan oleh Allah SWT pada hari yang penuh berkah ini.

Tidaklah akan mampu meraihnya melainkan orang-orang yang mau dan berusaha keras, bersungguh-sungguh dengan mengikuti amalan-amalan yang diwariskan oleh Rasululloh SAW yang masih dapat kita temukan pada jejak-jejak para ulama salafus sholeh seperti Hujjatul Islam, ‘Aalimul ‘allaamah, Al Imam Al Ghozali.

Uraian ini saya kutip hampir 100% dari kitab beliau yang berjudul: Bidayatul Hidayah yang disyarah oleh Ulama besar asal Banten, Imam Nawawi Al Jawi Al Bantani dalam kitabnya yang berjudul: Marooqil ‘Ubudiyyah.

Semoga Allah SWT senantiasa memuliakan beliau berdua, menerangi kuburnya dan semoga kita memperoleh manfaat dan berkah dari ilmu dan cahaya hidayah yang telah mereka raih berdua dalam perjalanan menuju Allah SWT.

Aamiin YRA…

Leave A Response »