Inilah Hadits Muadz bin Jabal yang akan Membuat Hati Kita Tercengang

hadits mu'adzWahai para sahabat dan saudaraku yang seiman, tidak ada seorangpun diantara kita melainkan pasti menginginkan bahwa setiap amal ibadah yang dilakukan diterima disisi Allah SWT.

Namun tidak semua dari kita yang mengetahui dan mau mempelajari hal-hal yang menyebabkan amal ibadah yang dilakukan tidak diterima bahkan justru menjadi sebab kita mendapat laknat dari Allah SWT.

Apa gerangan yang menjadi penyebabnya? Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan ini saya ajak kalian semua, khususnya diri saya sendiri untuk merenungi sebuah hadits Muadz bin Jabal r.a yang amat panjang dari rasululloh SAW berikut ini…

Diriwayatkan dari Al-Qodhi Al-Marwaziy dan Abdulloh ibnul Mubarok, dari Kholid bin Mi’dan bahwasannya ia pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal r.a.sebagai berikut:

Wahai Mu’adz, sampaikanlah kepadaku sebuah hadits yang engkau terima dari rasululloh SAW. Kholid bin Mi’dan berkata, tiba-tiba saja Mu’adz bin Jabal r.a menangis tersedu-sedu sehingga aku mengira ia tidak akan berhenti menangis namun akhirnya iapun berhenti menangis.

Kholid bin Mi’dan berkata bahwa pertanyaan ini telah membuat Mu’adz bin Jabal r.a sangat rindu kepada rasululloh SAW dan ingin kembali berjumpa dengan beliau SAW lalu Mu’adz berkata bahwa rasululloh SAW pernah bersabda kepadaku…

“Wahai Mu’adz, aku ingin menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang apabila kamu hafal/jaga maka ia akan memberikan manfaat untukmu disisi Allah SWT. Namun apabila kamu mengabaikan dan tidak menjaganya maka akan terputuslah hujjah yang akan menyelamatkanmu dihadapan Allah SWT pada hari kiamat nanti.”

“Wahai Mu’adz, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Ia menciptakan langit dan bumi lalu Allah SWT menjadikan bagi setiap langit yang tujuh itu seorang malaikat sebagai penjaga pintunya.”

“Suatu saat ada malaikat yang naik membawa amal ibadah seorang hamba yang dilakukannya sejak pagi hingga sore hari. Amal ibadah ini memiliki cahaya seperti cahaya matahari (saking banyak dan bersihnya amal ibadah ini) lalu sampailah malaikat tersebut ke pintu langit yang pertama/langit dunia. Namun malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata kepadanya…lemparkan saja amal ibadah ini ke wajah pemiliknya, aku adalah malaikat penjaga ghibah, Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal ibadah seorang hamba yang suka melakukan ghibah (membicarakan keburukan orang lain) melewati aku untuk menuju pintu langit selanjutnya.”

Kemudian rasululloh SAW melanjutkan sabdanya…

“Kemudian ada malaikat yang naik membawa amal ibadah seorang hamba yang bercahaya saking banyak dan bersihnya amal ibadahnya lalu sampailah malaikat tersebut ke pintu langit yang kedua. Namun malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata kepadanya berhentilah dan lemparkan saja amal ibadah ini ke wajah pemiliknya, sesungguhnya dia riya’ dalam beribadah agar memperoleh materi dunia. Aku adalah malaikat penjaga kemegahan. Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal ibadah seorang hamba melewati aku untuk menuju pintu langit selanjutnya karena dia hanya mengharapkan kemulyaan/kemegahan disisi manusia dengan amal ibadahnya.”

Kemudian rasululloh SAW melanjutkan sabdanya…

“Kemudian ada malaikat yang naik membawa amal ibadah seorang hamba yang memancarkan cahaya. Amal ibadah ini terdiri dari shodaqoh, sholat dan puasa sampai sang malaikat itu terkagum-kagum dengan amal ibadah ini lalu sampailah ia pada pintu langit yang ketiga. Kemudian malaikat penjaga pintu itu berkata, berhentilah dan lemparkan saja amal ibadah ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga kesombongan. Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal ibadah seorang hamba melewati aku untuk menuju pintu langit selanjutnya karena ia telah berlaku sombong dihadapan manusia dengan amal ibadahnya ini.”

Kemudian rasululloh SAW melanjutkan sabdanya…

“Kemudian ada malaikat yang naik membawa amal ibadah seorang hamba yang memancarkan cahaya laksana bintang-gemintang yang bercahaya dan mengeluarkan¬† suara gemuruh. Amal ibadah ini terdiri dari tasbih, sholat, puasa, haji dan umroh lalu sampailah ia pada pintu langit yang keempat. Kemudian malaikat penjaga pintu itu berkata, berhentilah dan lemparkan saja amal ibadah ini ke wajah, punggung dan perut pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga ujub. Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal ibadah seorang hamba melewati aku untuk menuju pintu langit selanjutnya karena ketika ia beramal ada rasa ujub didalam hatinya.”

Kemudian rasululloh SAW melanjutkan sabdanya…

“Kemudian ada malaikat yang naik membawa amal ibadah seseorang tembus sampai menuju ke pintu langit yang kelima. Amal ibadah ini bagaikan iringan pengantin wanita yang dibawa kehadapan pengantin prianya saking istimewanya. Kemudian malaikat penjaga pintu itu berkata, berhentilah dan lemparkan saja amal ibadah ini ke wajah pemiliknya dan gantungkan saja di bahunya. Aku adalah malaikat penjaga hasad/iri-hati. Sesungguhnya dia iri-hati kepada orang yang belajar dan beramal seperti amal ibadah yang dilakukan olehnya dan dia selalu iri-hati dengan orang yang memperoleh keutamaan dalam ibadah. Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal ibadah orang ini melewati aku untuk menuju pintu langit selanjutnya.”

Kemudian rasululloh SAW melanjutkan sabdanya…

“Kemudian ada malaikat yang naik membawa amal ibadah seseorang tembus sampai menuju ke pintu langit yang keenam. Amal ibadah ini memiliki cahaya seperti cahaya matahari, terdiri dari sholat, zakat, haji, umroh, jihad dan puasa lalu sampailah ia pada pintu langit yang keenam. Kemudian malaikat penjaga pintu itu berkata, berhentilah dan lemparkan saja amal ibadah ini ke wajah pemiliknya. Orang ini tidak memiliki rasa belas-kasih kepada sesama manusia diantara para hamba Allah SWT yang sedang tertimpa bala’ atau menderita suatu penyakit. Bahkan ia merasa senang dengan kondisi tersebut. Aku adalah malaikat penjaga rahmat/kasih-sayang. Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal ibadah orang ini melewati aku untuk menuju pintu langit selanjutnya.”

Kemudian rasululloh SAW melanjutkan sabdanya…

“Kemudian ada malaikat yang naik membawa amal ibadah seorang hamba yang terdiri dari puasa, sholat, infaq, Jihad, waro’/sikap hat-hati dari perkara yg syubhat, memiliki suara seperti dengungan suara gerombolan lebah, bercahaya seperti cahaya matahari, ada tiga ribu malaikat penghuni langit yang ikut mengirinya menuju pintu langit yang ketujuh.

Kemudian malaikat penjaga pintu itu berkata, berhentilah dan lemparkan saja amal ibadah ini ke wajah pemiliknya, hantamkan keseluruh tubuhnya, dan tutuplah hatinya dengan amalnya ini. Aku adalah malaikat penjaga zikir sesungguhnya aku akan menghalangi setiap amal ibadah yang dilakukan bukan karena mengharap ridho dari Allah SWT.

Orang ini beribadah hanya bertujuan agar diangkat dikalangan para fuqoha’, agar diingat-ingat dikalangan para ulama’ dan agar disebut-sebut namanya diseluruh negeri. Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal ibadah orang ini melewati aku. Sesungguhnya semua amal ibadah yang dilakukan bukan ikhlas karena Allah SWT adalah riya’ dan Allah SWT tidak akan menerima amal ibadah dari pelaku riya’.”

Kemudian rasululloh SAW melanjutkan sabdanya…

“Kemudian ada malaikat yang naik membawa amal ibadah seorang hamba yang terdiri dari sholat, zakat, puasa, haji, umroh, akhlak yang baik, menjaga lisannya dan banyak berzikir kepada Allah SWT. Para malaikat penghuni tujuh lapis langit pun ikut mengantarkan amalan orang ini kehadapan Allah SWT hingga tersingkaplah hijab antara para malaikat tersebut dengan Allah SWT.

Semua ikut menghadap kepada Allah SWT mempersembahkan amal ibadah sang hamba ini kemudian mereka bersaksi bahwa amal ibadah ini adalah amal ibadah yang ikhlas karena Allah SWT. Kemudian Allah SWT berfirman kepada mereka, kalian hanyalah penjaga dan pembawa amal ibadah hambaku ini.

Aku adalah Maha Pengawas dan Aku Maha mengetahui apa yang ada didalam hatinya. Sesungguhnya orang ini tidak sedikitpun mengharapkanku dari amal ibadahnya, sesungguhnya dia hanya mengharapkan selain Aku maka laknat-Ku atasnya lalu serentak seluruh malaikat berkata laknat-Mu dan laknat kami atasnya, kemudian ketujuh lapis langit beserta seluruh penduduknya ikut melaknatnya.”

Lalu Mu’adz bin Jabal kembali menangis sejadi-jadinya, kemudian ia bertanya kepada rasululloh SAW…Wahai rasululloh, Engkau seorang rasul Allah dan aku hanyalah Mu’adz, bagaimana aku bisa selamat dan bebas dari semua itu? Lalu rasululloh SAW menjawab:

“Ikutilah aku, jika terdapat kekurangan dalam amal ibadahmu maka peliharalah lisanmu dari membicarakan keburukan saudaramu dengan cara membawa al-qur’an (untuk sibukkan lisanmu membacanya)…

Sibukkanlah dirimu memikirkan dosa-dosamu ketimbang melihat dosa-dosa orang lain, janganlah kamu merasa lebih suci dari orang lain dengan mencela mereka, janganlah bersikap angkuh terhadap mereka, dan janganlah mencampur amalan dunia kedalam amalan akherat, janganlah riya’ dengan amal ibadahmu, dan janganlah berlaku sombong, janganlah suka membuka rahasia orang lain, janganlah merasa diri lebih agung didepan manusia, karena hal ini pasti akan menyebabkan terputusnya kebaikan dunia dan kebaikan akherat darimu…

Janganlah suka melukai hati orang lain dengan lisanmu, sebab kelak anjing-anjing neraka akan mengoyak-ngoyak tubuhmu pada hari pembalasan. Allah SWT berfirman…“Wan-Naasyithooti Nasythoo”, tahukah kamu siapa yang dimaksud oleh Allah SWT dengan mereka ini wahai Mu’adz? Demi bapakku, demi Engkau dan demi ibuku siapakah mereka wahai rasululloh? Beliau menjawab…Mereka adalah anjing-anjing neraka yang akan mengoyak-ngoyak daging dan tulang.”

Aku(Mu’adz)bertanya, demi bapakku, demi Engkau dan demi ibuku, siapakah orang yang mampu selamat dari sifat-sifat(yang menjadi penyebab amalan seseorang tidak diterima) ini wahai rasululloh?

Beliau SAW menjawab: Wahai Mu’adz, sesungguhnya sangat mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah untuknya, cukuplah kamu mencintai sesuatu yang dimiliki oleh manusia seperti kamu mencintai hal tersebut untuk dirimu, dan membenci sesuatu yang menimpa manusia seperti kamu membenci hal tersebut menimpamu, niscaya kamu akan selamat wahai Mu’adz.”

Khalid bin Mi’dan berkata…aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak membaca al-qur’anul ‘azhiim melebihi Mu’adz bin Jabal disebabkan oleh hadits yang agung ini.

Kesimpulan

Iinilah hadits Muadz bin Jabal r.a yang telah mengajarkan kepada kita bahwa sehebat apapun, sebanyak apapun, sebersih apapun amal ibadah yang kita lakukan, namun apabila tidak terbebas dari sifat-sifat tercela sebagaimana yang tersurat dalam hadits diatas yaitu:

  • Ghibah(suka membicarakan keburukan orang lain)
  • Riya'(ingin dilihat dan dipuji)
  • Takabbur(sombong)
  • Ujub(membanggakan diri secara berlebihan)
  • Hasad(iri hati)
  • Tidak memiliki belas-kasih/simpati/empati terhadap musibah yang dialami oleh orang lain
  • Sum’ah(ingin didengar, disebut-sebut dan terkenal)
  • Tidak ikhlas mengharap hanya keridho’an Allah SWT dalam melakukan amal ibadahnya.

Maka jangan pernah mengira bahwa amal ibadah tersebut akan diterima oleh Allah SWT. Alih-alih diterima, bahkan justru laknatlah yang akan diperoleh dari amal ibadah tersebut…Na’udzubillah!

Semoga setelah membaca dan merenungi hadits Muadz bin Jabal ini Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan dan petunjuk-Nya kepada kita semua serta memberikan kemudahan kepada kita untuk mampu membersihkan dan membebaskan hati dan jiwa kita dari sifat-sifat yang tercela ini…Aamiin YRA

Wallohu A’lam bisshowaab..

3 Comments »

  1. milla November 16, 2016 at 8:59 pm - Reply

    tolong disebutkan maroji’ haditsnya.
    dari kitab apa, nomer haditsnya berapa.

    syukron

    • Ibrahim May 17, 2017 at 8:13 am - Reply

      kitabnya Maraqil Ubudiyyah, syarah bidayatul hidayah..

  2. bangsol July 8, 2016 at 4:43 pm - Reply

    alhamdulillahi robal alamin dan terima kasih yang banyak bisa membuka hati

Leave A Response »