Apakah Sama Orang Yang Beriman Dengan Orang Yang Fasik?

tunjuki kami jalan yang benarTidak dapat disangkal lagi bahwa perkembangan zaman dengan segala kemajuan yang dihasilkannya saat ini telah menjadikan begitu banyak individu dari umat ini terhanyut dalam kesibukan dan aktifitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup mereka.

Meningkatnya populasi manusia sering menimbulkan situasi yang menggiring mereka berlomba dan bersaing dalam memperoleh segala sesuatu dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka tersebut. Tak jarang situasi ini berkembang menjadi persaingan yang tidak sehat lagi, hal ini disebabkan sifat tamak yang telah menguasai hati mereka.

Semakin hari semakin lupa dengan tujuan hidup mereka yang sesungguhnya. Sebagaimana yang telah banyak difirmankan oleh Allah swt bahwa kehidupan dunia itu secara substansi memang bersifat melalaikan, karena ia hanya menyajikan permainan dan kesenangan yang semu belaka bagi manusia.

Situasi ini tanpa disadari telah membuat sebagian besar manusia tak terkecuali umat ini lalai dari sesuatu yang lebih penting dan lebih utama untuk dicermati dan dilakukan oleh mereka dalam rangka memahami tujuan penciptaan mereka di dunia ini yaitu untuk beribadah kepada Allah swt.

Mereka telah melalaikan sesuatu yang akan menjaga mereka agar tetap berada pada jalur yang benar sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt melalui lisan para nabi dan rasul-Nya. Sesuatu yang akan menyelamatkan mereka pada kehidupan hakiki yang akan mereka jalani kelak setelah kehidupan dunia ini.

Sebagian besar mereka enggan dan malas memanfaatkan waktu untuk mempelajari dan mendalami hakikat tujuan hidup mereka yang terdapat di dalam Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk bagi kehidupan mereka. Akibatnya sebagian besar dari mereka tidak tahu dan tidak mau tahu dengan hal ini, dengan alasan terlalu sibuk dalam kegiatan memenuhi kebutuhan hidup mereka di dunia ini.

Kondisi ini menciptakan begitu banyak sifat dan karakter yang jauh melenceng dari petunjuk yang seharusnya diikuti. Pada akhirnya muncullah pribadi-pribadi yang hanya sibuk dan fokus pada dunia yang pada akhirnya melahirkan manusia-manusia yang egois dan hanya mementingkan kebutuhan diri mereka sendiri saja.

Diantara sifat dan karakter tersebut adalah sifat atau karakter fasik yang hampir menghinggapi sebagian besar hati umat saat ini. Karakter ini amat mudah ditemukan pada generasi saat ini. Generasi yang hampir tidak pernah bersentuhan dengan aktifitas mengaji dan mengkaji petunjuk yang ada di dalam Al-Qur’an. Kebanyakan mereka lebih senang mengkaji dan akhirnya memilih berkiblat dengan isme dan pandangan yang dirasa lebih modern dan lebih moderat bagi kehidupan mereka.

Makna Fasik dan Bahaya Besar yang Akan Dihadapi Oleh Orang Yang Fasik ini

Imam Abu Ja’far At-Thabari menerangkan: Makna kata ‘fasik’ secara bahasa, dalam dialek masyarakat Arab adalah: Keluar dari sesuatu. Karena itu, tikus gurun dinamakan juga dengan nama fuwaisiqah karena tikus sering keluar dari tempat persembunyiannya.

Didalam kamus Al-Munjid dijelaskan bahwa makna fasik adalah: Keluar dari jalan yang haq dan benar.

Sedangkan menurut istilah yang telah dirumuskan oleh para ulama kata fasik bermakna: Telah keluar dan melenceng dari jalan dan tata-cara hidup yang benar yang telah ditunjukkan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an dan yang diuraikan secara lebih detail oleh rasululloh saw dalam hadits-hadits dan sunnah-sunnahnya.

Pada zaman sekarang ini banyak kita temukan orang-orang yang mengaku islam, mengaku beriman, KTP islam, lahir dari orang tua islam, tinggal dan tumbuh di lingkungan islam, namun sifat dan perilaku sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai islam dan nilai-nilai keimanan.

Bagaimana mungkin bisa disebut islam? Bagaimana mungkin mengaku muslim dan beriman? Jika perilaku telah keluar dan melenceng jauh dari nilai-nilai islam dan iman? Mengaku islam namun memiliki prinsip tauhid yang rusak? Mengaku islam namun alergi dengan prinsip-prinsip islam? Bagaimana mungkin mengaku muslim dan beriman sementara di sisi lain sangat benci dengan prinsip-prinsip islam? Lebih senang bergaul dengan orang-orang yang membenci islam?

Bagaimana mungkin mengaku islam tapi tidak mengenal islam? Bagaimana mungkin mengaku beriman tapi tidak mengenal Allah swt sebagai Tuhannya? Bagaimana mungkin mengaku beriman tapi tidak mau beribadah kepada Allah swt satu-satunya Tuhannya? Bagaimana mungkin mengaku islam tapi enggan dan benci kepada nilai-nilai petunjuk hidup yang dituntun dalam islam?

Bahkan ada yang berani dengan lantang berkata dengan ucapan, “Saya muslim tapi saya benci dengan organisasi islam, benci dengan partai islam, benci dengan kelompok-kelompok yang memperjuangkan nilai-nilai islam dan lain sebagainya, tapi saya islam…” Bagaimana mungkin bisa disebut muslim dan beriman jika prinsipnya seperti itu? Jangan bermimpi kawan, itu bukan cara yang benar.

Apakah Sama Antara Orang Mukmin dan Orang Yang fasik itu?

prinsip yang ada dalam alquranUntuk dapat memahami dan menemukan jawaban dari pertanyaan yang sangat penting ini, marilah sejenak kita perhatikan bagaimana Allah swt menggambarkan perbedaan dari kedua karakter ini melalui firman-Nya berikut ini.

“Apakah orang-orang yang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh itu, maka bagi mereka surga sebagai tempat kediamannya, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah neraka jahannam. Setiap kali mereka ingin keluar dari neraka jahannam itu, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa (neraka jahannam) ini yang dahulu kamu mendustakannya.”

(QS As Sajdah:18 – 20)

Lihatlah perbedaannya kawan, orang yang beriman itu adalah orang yang konsisten berada dalam prinsip-prinsip yang dipancarkan oleh keimanannya yaitu “amal yang sholeh”.

Menurut saya “amalan yang sholeh” ini adalah amalan yang telah dirangkum dalam kitab petunjuk yang paling benar yaitu Al-Qur’an dan sunnah rasululloh saw. Sementara amalan lain yang tidak ada dalam tuntutan keduanya adalah amalan yang fasik atau melenceng.

Tempat tinggal mereka, orang yang beriman ini adalah surga, tempat tinggal akhir yang tinggi dan mulia, sebagai balasan atas konsistensi mereka untuk tetap berada pada jalan dan prinsip hidup yang benar itu.

Sementara orang yang fasik, tempat tinggal akhir mereka adalah neraka jahannam, sebagai balasan atas kecenderungan hati mereka untuk senang berada pada jalan yang sesat, prinsip hidup yang sesat, karena keluar dan melenceng dari jalan dan prinsip hidup yang benar.

Tidaklah mungkin Allah swt menzholimi mereka dengan siksaan yang amat pedih berupa neraka jahannam ini jika prinsip dan jalan hidup kefasikan ini benar menurut pandangan mereka disisi Allah swt. Sebab Allah swt telah banyak menyampaikan dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak mungkin berbuat aniaya terhadap hamba-hamba-Nya yang benar.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada artikel ini untuk dapat kita renungi bersama. Agar kita dapat lebih berhati-hati dalam memilih dan menjalani prinsip hidup yang ingin kita jalani agar sesuai dengan petunjuk Allah swt dan rasul-Nya saw.

Kurang-lebihnya mohon maaf. Yang benar itu datangnya dari Allah swt, yang salah pasti datangnya dari saya sebagai manusia yang lemah dan sedikit ilmunya. Tidaklah saya sampaikan ini melainkan hanya ingin mengajak kita khususnya diri saya agar tetap konsisten berada pada jalan yang benar sesuai tuntunan-Nya dalam rangka menuju cahaya dan meraih hidayah-Nya.

Wallohu A’lam bishshowab!

Leave A Response »